Memuput Rindu di Henbuk

Cover Thumbnail Memuput Rindu di Henbuk

Memuput Rindu sudah ada di Henbuk, bisa dibeli dengan gratis. Kebetulan owner-nya, Hendika, ngirim tulisan juga untuk antologi. Henbuk merupakan marketplace yang berfokus untuk menjual E-Book (Buku Digital). Menurut Henbuk, buku elektronik semakin diminati karena harga yang murah dan kemudahan membawa banyak buku hanya dengan satu perangkat.

Ketika pertama kali dicetuskan Memuput Rindu Edisi Demo akan hadir dalam bentuk digital, Hendika langsung menawarkan untuk mem-publish di Henbuk. more »

Politik Dinasti dalam Launching Memuput Rindu?

Sah, 25 karya (puisi, cerpen, prosa liris, drama, catatan perjalanan) dari 17 penulis mengisi edisi demo Memuput Rindu: Antologi Reuni Absurd Generation. Sesuai rencana sebelumnya, Memuput Rindu Edisi Demo hanya tersedia dalam versi digital, dan bisa kita nikmati pada link ini. Masih dengan watermark. Versi tanpa watermark mungkin akan di-publish dan dapat dibeli secara gratis di HENBUK, sebuah platform jual beli buku digital. Sudah ada tawaran dari owner-nya, dan mungkin nanti akan saya jajagi kembali melalui Chief Operations Officer-nya. Kebetulan keduanya juga menyumbang karya dalam antologi ini.

Aroma dinasti klan Santosa sangat terasa dalam antologi ini. more »

Bank Data

ku coba
       mendidihkan
bercak tanganmu
membiarkan rasa purba
       menggelinjang

Beberapa hari yang lalu, Kamillo Yulisukma menghubungi saya untuk membuat janji ngopi bareng. Dia ingin mengkonfirmasi penyebutan namanya dalam tulisan saya sebelumnya, Akhirnya, Sejarah Itu akan Terungkap! (Versi Lain). Namun pada akhirnya obrolan kami tidak hanya sebatas topik tulisan itu, more »

Akhirnya, Sejarah Itu akan Terungkap! (Versi Lain)

Beberapa minggu lalu, judul ini pernah saya pakai. Waktu itu saya merujuk pada sejarah tentang penyematan Absurd Generation pada Teater Angin. Kali ini judul itu saya pakai kembali, namun merujuk pada hal lain. Sejarah yang akan terungkap itu adalah sejarah tentang berdirinya Teater Angin! Sebenarnya ini masih ada kaitannya dengan perkara ulang tahun yang keliru, tapi saya enggan untuk membuat part 3 dari tulisan itu. Jadi, mari kita mulai saja.

Awalnya ketika saya bertandang ke Jatijagat Kehidupan Puisi, bertemu dengan Dimas Hendratno, untuk meminta restu penerbitan Memuput Rindu. Di sela obrolan, dia bercerita tentang rencana Ibu Putri Suastini more »

Nge-borju Sejenak di Malioboro

Pada suatu Minggu pagi, beberapa anak angin berwisata ke Pantai Sanur, kalau tidak salah tepatnya di Pantai Karang, tanpa Adhi Tiana. Ya, pagi itu adalah jadwal keberangkatan Adhi ke Jakarta untuk menerima hadiah sebagai runner-up lomba cipta cerpen tingkat nasional. Kami tidak tahu jam berapa penerbangan Adhi ke Jakarta, tapi setiap ada pesawat melintas di langit, kami akan melambaikan tangan sekaligus berteriak kegirangan, “Adhiii… Adhiii…,” sembari membayangkan Adhi yang kumal dilayani oleh pramugari cantik nan putih mulus.

Singkat cerita, Adhi kembali dari Jakarta dengan membawa banyak oleh-oleh, diantaranya beberapa naskah drama dan buku-buku, more »

18 Jun 2020, 21:08
Cerpen Person
by

1 comment

Adhi Runner Up

Jika sampai saat ini belum ada renovasi, maka tepat di titik tengah lapangan tenis yang kadang dipakai tempat latihan anak angin akan terdapat bercak-bercak hitam bekas terbakar. Itu adalah ulah dari beberapa oknum anak angin, yang iseng memanfaatkan bangku-bangku bekas tak terpakai untuk sekedar digunakan api unggun penghangat badan. (Atau sebagai sarana pemanggang ayam, saya agak lupa….)

Beberapa hari setelah kejadian bakar-bakaran tersebut, ada pesan dari kantoran ke kelas saya meminta agar Adhi Tiana menghadap Pak Mustika, kepala sekolah, segera. Ini masalah! more »

11 Jun 2020, 21:08
Cerpen Puisi
by

5 comments

Keroyokan Cerpen

Ada yang masih ingat dengan beberapa baris dalam puisi saya, Insomnia? (1) Gadis penjual sesajen kepada Tuhan; (2) sengketa nenek penari tepi desa; dan (3) aturan dilanggar peraturan. Masing-masing kalimat tersebut merupakan tema cerpen dari tiga anak angin yang pernah mengirimkan karyanya dalam lomba cipta cerpen tingkat nasional pada tahun 1996, yaitu Rahayu Ujianti, Adhi Tiana, dan saya sendiri.

Saya lupa bagaimana awalnya. Tapi, sepertinya kisah ini dimulai ketika Bu Purwani memberikan selembar brosur tentang lomba cipta cerpen tingkat nasional. Lalu disosialisasikan kepada anak-anak angin, kemudian diam mengendap begitu saja. Ajaibnya, suatu hari, more »

 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    Kena.ajian.sirep Anak.muda Lautan Konvoi Adhi.runner.up Suling.bambu.peniru.rindik Malioboro Eksperimen.eksperimen Sekre Maaf.saya.tidak.tahu.perubahan.no.undi Klan Wahyu.gagal.mengkader.wira Wisata Ratna Sucahya.jangan.diajak Keroyokan.cerpen Dispen.nonton.film Angin.biang.demo Paria Antologi.bersyarat Sibang.kaja Kita.pasti.main Sampun.ngopi? Toya.bungkah Tuan.puteri Kisah.kisah.inses Ngetekok.metaluh Nigna Orang.asing.ketiduran Kami.siap.dimana.saja Kebersamaan.&.makanan Bajuku.mana.man?! Tas.campil.club Ciam.si.reuni Pula.suda.mala! Kalian.duduk.di.depan! Sanggar.minum.kopi Marah.turun.di.sawah Lombok.here.we.come The.absurd.gen Woi.ban.bocor Rest.in.peace Yang.masih.sama Granat Di.hadapan.tentara Ketua.menangis Tentang.angin Di.tokopedia Camot.penculik Ada.apa.dengan.kamis Vivi Memuput.rindu Meniru.orang.asing