12 Feb 2024, 08:21
Tradisi
by

leave a comment

Melanjutkan Proses untuk Menjadi Ketua

Pada tulisan sebelumnya, saya menyampaikan ada beberapa keanehan dalam daftar ketua yang saya tampilkan. Untuk membahasnya, mari kita tampilkan kembali daftar ketua yang saya anggap aneh.

  • ….
  • 1990/1991: Rahayu \ 1989-1992
  • 1991/1992: Dimas Hendratno \ 1991-1994
  • 1992/1993: Agus Sedana \ 1991-1994
  • 1993/1994: Eka Sucahya \ 1993-1996
  • 1994/1995: Wira Santosa \ 1994-1997 more »
10 Feb 2024, 10:53
Tradisi
by

4 comments

Proses untuk Menjadi Ketua


Undangan orasi pemilihan ketua.

Untuk menjadi Ketua Teater Angin saat ini, para calon harus orasi terlebih dahulu. Keren! Setidaknya begitu kesimpulan saya ketika menerima undangan, seperti terlihat pada gambar di atas, dari anak angin beberapa hari yang lalu. Berbeda pada jaman saya dulu, ketua ditunjuk dan diresmikan secara tiba-tiba, berbarengan dengan acara pelantikan anggota. more »

1 Feb 2024, 21:08
Puisi Tradisi
by

2 comments

Toya Bungkah (The Absurd Generation Part 2)

Mari kita ingat-ingat kembali pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya tentang periodisasi sastra. Jika saya katakan Poedjangga Baroe, mungkin akan ada yang langsung teringat dengan Sutan Takdir Alisjahbana (STA), pengarang novel Layar Terkembang. Bersama A.A. Pandji Tisna, sastrawan angkatan Poedjangga Baroe lainnya asal Buleleng, pengarang novel Sukreni Gadis Bali, STA mengunjungi Toya Bungkah untuk pertama kalinya pada tahun 1930-an. Lalu pada tahun 1970-an STA mendirikan Balai Seni Toya Bungkah.

Sekitar tahun 1992, anak-anak angin mengikuti lomba baca puisi di Balai Seni Toya Bungkah, yang disaksikan langsung oleh STA. more »

25 Aug 2022, 21:08
Tradisi
by

3 comments

The Absurd Generation

Sungguh mengherankan! Hampir 14 tahun keberadaan blog ini dalam suka cita, dengan 80-an tulisan telah dibagikan, dari beberapa contributor yang sebagian besar (atau semuanya?) mengalami fase hiatus, ternyata sama sekali belum ada tulisan tentang sejarah nama The Absurd Generation yang melekat pada Teater Angin. Akan sangat berdosa sekali rasanya, jika sampai para contributor tidak pernah menulis lagi, di sini, maka sejarah itu tidak akan tercatat, atau bahkan mungkin tidak akan tersampaikan. Iya sih, cerita tentang ini tentu saja telah diwariskan turun-temurun secara lisan. Tapi apa iya, lisan itu telah sesuai dengan kebenaran? Maka dari itu, baiklah, tulisan kali ini akan membahas tentang hal tersebut. more »

7 Dec 2009, 23:54
Tradisi
by

84 comments

Doa Lingkaran

Perhatian: (update 18 Maret 2010)
Kepada kawan-kawan yang kebetulan mampir dan membaca postingan mengenai Doa Lingkaran ini, lalu ingin berpartisipasi dalam bentuk komentar, diharapkan untuk membaca dengan teliti seluruh tulisan ini secara utuh, termasuk membaca detail satu per satu komentar-komentar sebelumnya, untuk menghindari kesalah-pahaman maupun prasangka dan pelencengan dari fokus tulisan. Jika ada pertanyaan/pernyataan, bagian-bagian yang belum kawan-kawan pahami dengan benar, yang ingin diungkapkan secara pribadi, silahkan menghubungi penulis di tello108[at]gmail[dot]com

Kita ini milik Tuhan
Selamanya mengabdi hanya kepada Tuhan
Kita tak ingin yang berlebihan
Sebab yang berlebihan akan kita kembalikan kepada Tuhan
Kita percaya pada jalannya alam dan kehidupan
Demi Tuhan yang memberi kita kekuatan
Kita sanggup untuk melaksanakannya

Kurang lebih seperti itu. Dan, sepertinya rangkaian kata-kata di atas mirip banget sama yang ada di sini… 😉 more »

12 Mar 2009, 23:52
Kuliner Tradisi
by

25 comments

Kumbasari

Mencari nasi jinggo di Kota Denpasar, saat ini begitu mudah. Sore sampai malam, bahkan menjelang pagi, hampir di setiap ruas jalan kita bisa menemukan penjual nasi campur minimalis dibungkus daun pisang, yang dihargai Rp 1.500 – Rp 2.500 per bungkus. Tahun 90-an, nasi jinggo identik dengan Kumbasari. Sepertinya saat itu nasi jinggo hanya dijual di sana, atau setidaknya, di Kumbasari yang paling terkenal. Lokasinya di sebuah gang pinggir Jalan Gajah Mada, seberang pintu masuk ke Pasar Kumbasari.

Kumbasari adalah salah satu tempat nongkrong favorit anak-anak angin tahun 90-an. Orang-orang menyangka, more »

29 Jan 2009, 21:08
Tradisi
by

20 comments

Lalungiiin…!

[Mohon diperhatian. Tulisan berikut ini mengandung sedikit unsur jorok. Bagi yang tidak bisa berdamai dengan keterjorokan, harap jangan melanjutkan membaca. Terima kasih atas keperhatiannya….]

Lalungin, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi, “Telanjangiii…!” Entah sejak kapan tradisi ini mulai ada di kalangan anak angin. Yang jelas, semenjak pertama kali menginjakkan kaki di angin, aku sudah mendengar teriakan itu, “Lalungiiin…!” Dan sampai sekarang, setelah hampir dua belas tahun, kadang anak angin bertanya kepadaku ketika menyempatkan diri berkunjung, “Bli, jamannya Bli dulu udah ada lalung-lalungin belum?” Haha… tentu sudah. more »

 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    Kena.ajian.sirep Anak.muda Lautan Konvoi Adhi.runner.up Suling.bambu.peniru.rindik Malioboro Eksperimen.eksperimen Sekre Maaf.saya.tidak.tahu.perubahan.no.undi Klan Wahyu.gagal.mengkader.wira Wisata Ratna Sucahya.jangan.diajak Keroyokan.cerpen Dispen.nonton.film Angin.biang.demo Paria Antologi.bersyarat Sibang.kaja Kita.pasti.main Sampun.ngopi? Toya.bungkah Tuan.puteri Kisah.kisah.inses Ngetekok.metaluh Nigna Orang.asing.ketiduran Kami.siap.dimana.saja Kebersamaan.&.makanan Bajuku.mana.man?! Tas.campil.club Ciam.si.reuni Pula.suda.mala! Kalian.duduk.di.depan! Sanggar.minum.kopi Marah.turun.di.sawah Lombok.here.we.come The.absurd.gen Woi.ban.bocor Rest.in.peace Yang.masih.sama Granat Di.hadapan.tentara Ketua.menangis Tentang.angin Di.tokopedia Camot.penculik Ada.apa.dengan.kamis Vivi Memuput.rindu