8 Apr 2024, 20:17
Person Puisi
by

leave a comment

Vi

Tanggal 28 April dijadikan sebagai Hari Puisi Nasional, merujuk pada wafatnya Chairil Anwar pada tanggal 28 April 1949. April memang telah menjadi bulan yang keramat bagi dunia sastra di Indonesia. Selain Chairil Anwar, tokoh sastra yang berpulang di bulan April diantaranya Danarto (10 April 2018), yang cerpennya berjudul Godlob pernah dimainkan anak-anak Angin dalam Lomba Baca Cerpen PSR tahun 1990-an. Mahaguru puisi, Umbu Landu Paranggi, juga menghembuskan napas terakhir di bulan April, tepatnya 6 April 2021.

Tahun ini pun dunia sastra kembali berduka di bulan April. Yudhistira ANM Massardi, cerpennya pernah digunakan dalam Lomba Baca Cerpen Porseni Kodya Denpasar tahun 1990-an, berpulang pada tanggal 2 April. Cok Sawitri, tokoh sastra dan teater wanita di Bali yang kerap memberi support kepada anak-anak Angin melalui kehadirannya pada beberapa pementasan, wafat pada tanggal 4 April.

Tidak hanya tokoh-tokoh tersebut di atas, kabar duka juga menimpa Ketua Teater Angin 1996/1997, Krishnahari, cucu dari Putu Wijaya, pengarang naskah drama Bila Malam Bertambah Malam. Ayahanda dari Krishnahari meninggal dunia pada tanggal 2 April 2024.

Namun, di atas semua itu, yang ingin saya kenang hari ini adalah tanggal 8 April 2017. Tepat tujuh tahun lalu, sahabat kita semua, Putu Vivi Lestari, memuput napas terakhir. Tidak banyak kenangan yang saya ingat tentang Vivi. Satu diantaranya adalah tentang kebiasaannya tersesat mencari jalan menuju tujuannya. Mungkin kata yang lebih tepat bukan tersesat. Vivi mengaku sering tanpa sadar melalui jalan yang tidak semestinya ketika mengendarai motor. Dari A ke B yang seharusnya lebih dekat melalui C, Vivi tanpa sadar telah berada di D yang jauh memutar. Analisa saya, mungkin karena otak Vivi terlalu imajinatif, dengan kata lain sering melamun, sehingga kerap tidak menyadari keadaan sekeliling.

Vivi pernah bersama saya diinisiasi reiki oleh seorang kakak alumnus Angin. Namun saya tidak tahu, apakah dia dengan disiplin mengikuti instruksi yang diberikan, tidak seperti saya yang ilmunya langsung menguap. Saya juga pernah mengunjungi Vivi di Rumah Buku Cengkilung, tempatnya bekerja sebelum menjadi dosen. Dosen Ekonomi, mungkin bukan profesi idamannya. Kecintaannya pada dunia sastra, saya yakini menjadikan Dosen Ekonomi hanya sebagai sambilan bagi Vivi. (Bukan bermaksud mengecilkan profesi Dosen Ekonomi, tapi kecintaan Vivi terhadap sastra melebihi apapun).

Vi, kami doakan yang terbaik untukmu, yang telah berkumpul di sana bersama Chairil Anwar, Umbu Landu Paranggi, Cok Sawitri, dan yang lain.

Vi, kami meminta restu untuk terwujudnya antologi Memuput Rindu.

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    Kena.ajian.sirep Anak.muda Lautan Konvoi Adhi.runner.up Suling.bambu.peniru.rindik Malioboro Eksperimen.eksperimen Sekre Maaf.saya.tidak.tahu.perubahan.no.undi Klan Wahyu.gagal.mengkader.wira Wisata Ratna Sucahya.jangan.diajak Keroyokan.cerpen Dispen.nonton.film Angin.biang.demo Paria Antologi.bersyarat Sibang.kaja Kita.pasti.main Sampun.ngopi? Toya.bungkah Tuan.puteri Kisah.kisah.inses Ngetekok.metaluh Nigna Orang.asing.ketiduran Kami.siap.dimana.saja Kebersamaan.&.makanan Bajuku.mana.man?! Tas.campil.club Ciam.si.reuni Pula.suda.mala! Kalian.duduk.di.depan! Sanggar.minum.kopi Marah.turun.di.sawah Lombok.here.we.come The.absurd.gen Woi.ban.bocor Rest.in.peace Yang.masih.sama Granat Di.hadapan.tentara Ketua.menangis Tentang.angin Di.tokopedia Camot.penculik Ada.apa.dengan.kamis Vivi Memuput.rindu Meniru.orang.asing