7 Dec 2009, 23:54
Tradisi
by

82 comments

Doa Lingkaran

Perhatian: (update 18 Maret 2010)
Kepada kawan-kawan yang kebetulan mampir dan membaca postingan mengenai Doa Lingkaran ini, lalu ingin berpartisipasi dalam bentuk komentar, diharapkan untuk membaca dengan teliti seluruh tulisan ini secara utuh, termasuk membaca detail satu per satu komentar-komentar sebelumnya, untuk menghindari kesalah-pahaman maupun prasangka dan pelencengan dari fokus tulisan. Jika ada pertanyaan/pernyataan, bagian-bagian yang belum kawan-kawan pahami dengan benar, yang ingin diungkapkan secara pribadi, silahkan menghubungi penulis di tello108[at]gmail[dot]com

Kita ini milik Tuhan
Selamanya mengabdi hanya kepada Tuhan
Kita tak ingin yang berlebihan
Sebab yang berlebihan akan kita kembalikan kepada Tuhan
Kita percaya pada jalannya alam dan kehidupan
Demi Tuhan yang memberi kita kekuatan
Kita sanggup untuk melaksanakannya

Kurang lebih seperti itu. Dan, sepertinya rangkaian kata-kata di atas mirip banget sama yang ada di sini… 😉 Hehe… sebelum saya membahas tentang doa lingkaran di atas, ijinkan saya sedikit menggeliat, lalu berteriak kencang, melepaskan semua beban di pundak, “TEATER ANGIN DOT COM mencoba untuk TELAH KEMBALIII!” OK, pada hitungan ke-3, bersama-sama, mari kita ucapkan angin dengan lirih… satuuu… duaaa… tigaaa… aaangiiinnn….

Sekali lagi, sebelum saya membahas tentang doa lingkaran di atas, ijinkan saya sedikit menyampaikan kata-kata sambutan, berkaitan dengan kembalinya teaterangin dot com dari tidur panjang, selama lebih dari enam bulan. Awalnya saya tidak merencanakan untuk tidur sekian lama. Tapi apa mau dikata, seperti prediksi-prediksi sebelumnya, tingkat kejenuhan saya mencapai puncaknya. Maka, dengan terpaksa saya harus mengenyampingkan tagline blog ini, “Setidaknya setiap Kamis, jam sembilan malam, lewat delapan menit, akan selalu ada kisah baru…” Hehe… rasanya sudah seribu Kamis terlewati tanpa kisah baru.

Lalu saya teringat, nanti, sekitar satu bulan ke depan, saya harus menyiapkan $9 untuk memperpanjang domain teaterangin dot com ini. Sungguh, saya sungguh merasa berdosa kepada Suka Ada, yang telah memberikan rumah gratis untuk domain ini, termasuk berdonasi $9 untuk tahun pertama, yang akan berakhir nanti tanggal 19 Januari 2010. Merasa sangat berdosa malah, karena ternyata $9 itu hanya terpakai tidak lebih dari lima bulan, dari quota 12 bulan yang tersedia. Maka, sejak beberapa minggu yang lalu sebenarnya sudah saya niatkan untuk sekedar kembali menulis. Ide sangat banyak, tapi kok malah bingung sendiri.

Nah, bermula sekedar iseng berkunjung ke group Teater Angin di Facebook, lalu menemukan wall post ini dari Alfonsus D. Johannes, yang menanyakan tentang doa lingkaran. Pada salah satu comment di sana, Gungbo (Gede Wahyu Prasetya) malah memberikan referensi untuk membaca teaterangin dot com, untuk “mencoba” mengetahui lebih lanjut tentang doa lingkaran. Lho? Seingat saya, belum pernah dibahas tentang doa lingkaran di sini. Jadi, supaya Gungbo tidak salah memberikan referensi, tidak ada salahnya saya sedikit bercerita tentang doa lingkaran, dari sudut ingatan otak saya yang sudah mulai aus.

Jauh sebelum doa lingkaran dengan rangkaian kata-kata di atas dipergunakan oleh anak-anak angin, kita sudah memiliki sebuah tradisi doa untuk memulai dan mengakhiri kegiatan. Duduk melingkar, tangan disilang di depan, kanan di atas yang kiri, masing-masing memegang tangan kawan di sebelah kanan kiri, membentuk sebuah siklus tanpa awal tanpa akhir. Dan catat, anak angin melakukan hal ini tidak kurang dari satu jam dalam durasi latihan yang tidak lebih dari dua setengah jam. Wow, betapa religiusnya anak angin! 😉 Tapi jangan salah, religius tidaknya anak angin tidak bisa ditakar dari panjang pendeknya waktu melakukan ritual doa. Karena, hitungannya begini. Jadwal latihan biasanya dimulai jam empat sore. Paling untung, jam setengah lima baru mulai membentuk lingkaran, kadang bisa molor sampai jam lima. Tergantung jumlah anggota yang datang. Nah, dalam lingkaran ini, kita ngocol, ketawa, saling ejek, ngoceh ndak jelas, pokoknya dengan tujuan memperlambat mulai berdoa. Apalagi kalau yang mimpin doa kebagian megang tangan halus anak angin yang paling cantik. Kesempatan, kapan lagi? Anggaplah ritual ini berlangsung setengah jam. Lalu satu jam berikutnya barulah latihan. Setelah itu, ya membentuk lingkaran lagi. Ngocol lagi. Ketawa lagi. Saling ejek lagi. Ngoceh ndak jelas lagi. Memanfaatkan kesempatan berlama-lama megang tangan halus anak angin yang paling cantik lagi, sampai sekitar setengah jam lagi, atau sampai ada suara cewek lain yang merajuk, sok ngambek, minta doanya dipercepat, karena dia harus segera pulang, sudah ditunggu mama tercinta. [Tapi sulit dibedakan, apakah cewek itu merajuk karena memang benar-benar harus segera pulang, atau karena cemburu, ndak ada cowok yang megang tangan halusnya…] 😀 Biasanya doa ini akan diakhiri dengan komando, “Pada hitungan ke-3, teriak angin yang keras… satuuu… duaaa… tigaaa… AAANGIIINNN!!!”

Begitulah. Sampai akhirnya seorang bernama Abang membawa sebuah alternatif doa lingkaran. Abang ini, waktu itu, sekitar tahun 1995/1996/1997 adalah seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Udayana seangkatan Jengki, yang kebetulan mendalami dunia teater. Abang sepertinya memiliki ikatan emosional dengan Angin, karena pada sekitar tahun 1992/1993, ketika masih bersekolah di Lombok, sempat berkunjung ke Bali dan pentas di panggungnya anak-anak angin. Abang-lah yang memperkenalkan kepada anak angin doa lingkaran yang disertai dengan rangkaian kata-kata di atas, sekitar tahun 1996/1997. Pemimpin doa akan mengucapkan baris demi baris doa ini, dan peserta yang melingkar wajib untuk mengikutinya. Entah sumbernya dari mana, tapi sebagian besar anak angin menyukai model doa lingkaran ini.

Ternyata doa lingkaran ini masih dipergunakan oleh anak angin sampai sekarang. Tapi, bukan hanya anak angin yang mempergunakannya. Anak-anak Teater Tiga Trisma juga. Bahkan, kabarnya, [mudah-mudahan kabar ini ndak bener] beberapa waktu yang lalu, mungkin tidak lebih dari setahun dua tahun yang lalu, terjadi sedikit gesekan antara oknum angin dengan oknum Teater Tiga. Mereka saling klaim, bahwa doa lingkaran itu adalah milik masing-masing. Kalau memang benar pernah terjadi ngotot-ngototan seperti itu, saya sungguh menyesal. Di atas panggung kita boleh bersaing, tapi hendaknya di bawah panggung tetap menjaga persaudaraan. [Hehe… mendadak sok bijaksana…] Lagipula, asal muasal doa lingkaran boleh dibilang tidak jelas. Titik terangnya, ada yang mengatakan, bahwa doa lingkaran ini dipopulerkan oleh Bengkel Teater-nya WS Rendra. Jadi, kalau memang diijinkan oleh Bengkel Teater, sebenarnya siapa pun boleh menggunakannya kan?

Okelah kalau begitu, mari kita akhiri saja kisah tentang doa lingkaran ini, dengan memanjatkan doa lingkaran. Tapi eittt… stop! Sssttt… jangan bilang-bilang ya! Sebenernya saya salah satu anak angin, kalau tidak boleh dibilang satu-satunya, yang tidak begitu antusias melafalkan doa lingkaran. Setidaknya tidak seantusias Gantet atau Ardita lah. Saya amat sangat jarang, kalau tidak boleh dibilang tidak pernah, ikut serta menirukan baris demi baris doa lingkaran. Jadi, mari kita membentuk lingkaran, silahkan seseorang memimpin, yang jelas jangan saya, ucapkan baris demi baris doa lingkaran, yang lain silahkan mengikuti, tentunya tidak termasuk saya, karena saya cukup mendengarkan saja. Bagian saya, bolehlah hanya mengucapkan angin dengan lirih… aaangiiinnn….

wahh…..
cuman denger ceritanya dari satu pihak gitu doang langsun di masukin…
apa gak mau denger cerita dari pihak teater tiga dulu tu…..?

[Reply]

iss…..
maaf ya sebelumnya….!
yang gak ngelaku`in persaingan yang sportif dan jujur tu siapa cobak !!
ngaca dulu dong bung, baru angkat bicara…!!

[Reply]

Wira Reply:

Nah, lho! Rara ini sedang mengomentari Crew ya? Kalau begitu, silahkan Crew untuk menanggapi. Saya cukup jadi moderator saja. Btw, ada baiknya Rara dan Crew memperkenalkan diri dulu, supaya jelas siapa dan dari mana. Salam hangat, dan thanks buat Rara atas kunjungan dan komentarnya. 😉

Crew Reply:

Sebelumnya sya mnta maaf,.dan perkenalkan saya dari SMAN3 Dps,tp bukan anak TT…postingan sya yang di atas tidak ada menyangkut anda,atw menuduh persaingan anda yang memakai cara kotor dan segalanya,…saya percaya semua SMA bersaing secara bersih dan sportif,…tp di balik itu semua tidak ada yang tahu bagaimana proses yang sebenarnya,… saya cuman memberikan semangat dan nasehat saja kepada semua yang bersaing harus secara sportif dan jujur,…saya benar-benar tidak ada maksud tertentu untuk mengucapkan itu semua,… memang itu pernyataan untuk semua orang,dan patut dilaksanakan dan diterapkan,….

Emm,jangan memakai emosi dulu ya,. 😉 …

kalau anda berpikir negative seperti itu,apakah anda memiliki bukti dari persaingan yang tidak sportif dan jujur dari kita??coba sebutkan,dan berikan bukti yang”konkrit”…
sebelumnya saya tidak memaksa anda untuk menjawabnya…

Take it easy … 😉

saya datang dengan damai,bukan untuk mengkritik dengan kata-kata pedas,dan tidak untuk membalikan keadaan menjadi lebih buruk,…

saya cuman ikut nimbrung aja,.. dan menurut saya web ini bagus untuk bahan perbincangan yang ada hasilnya… 😉

sekali lagi maaf ya rara perkataan saya mungkin kurang di perjelas jadi kesannya saya menyindir…
maaf untuk semua juga … 😉

Wira Reply:

Siiip… thanks buat Crew, atas tanggapan dan perkenalannya. Secara garis besar, saya sependapat dengan Crew. Sekarang, waktu dan kesempatan saya kembalikan kepada Rara, untuk memperkenalkan diri sekaligus memberikan tanggapan. Tentu saja sesuai dengan pesan Crew, emosinya dikontrol sedikit. Jabat erat.

Nah, kalau begitu, ada dari pihak Teater Tiga yang mau cerita soal ini ndak? Supaya referensi kita lebih valid. Rara ini dari mana, kalau boleh tahu? Salam hangat… 😉

[Reply]

16 Mar 2010, 13:30
by sukada


haha ngakak cang

[Reply]

Wira Reply:

Haha… bareng sik ngakak… (ingkel-ingkel sambil ngisiang basang)

Ya intinya sama-sama meniru dari karya orang lain,..

(saya bkn dri TTT atw TA)…

[Reply]

Ryl Reply:

yang punya aja ga sewot n ga’ ikut ngeributin ini semua,…

selamat berdebat aja dah,…debat yang percuma buat di bahas dan tidak penting untuk mempertahankan pendapat masing-masing yang sebelumnya kalian juga tidak tau yang sebenarnya,..

dan saya juga ga tau sapa yang salah dan benar,yang aku tau kalian menganggap diri kalian sendiri yang benar…trs sapa yang salah??

kalau saya tanya ke TA pasti inti jawabannya”Ya pasti yang salah TTT”,..kalau saya tanya dari pihak TTT”mana mungkin kita salah,pasti TA yang salah.”

swear,percuma banget di pikir panjang hal yang tidak penting kaya’ gini..

udahlah,ga’ usah ngurusin ni karya patut di pake’ sapa dan untuk sapa,tp pikirin untuk selalu berkarya dan bersaing secara jujur untuk mewujudkan suatu hasil yang sempurna dan untuk menunjukan sapa yang pantas untuk dihormati atas hasil karyanya dan kekreatiftasnya…

daripada kayak gini malah bikin masalah aja,..tanya buyut kalian(TTT n TA) sapa yang benar,jangan memegang teguh pendapat sendiri…

Wira Reply:

Thanks buat Ryl yang bukan anak angin atau TTT atas kunjungan dan komentar panjangnya.

Pertama, sepertinya memang benar apa yang Ryl sebutkan, bahwa Doa Lingkaran yang diperagakan oleh anak-anak angin dan TTT adalah meniru.

Kedua, saya sepakat dengan Wahyu, bahwa masalahnya adalah bukan siapa meniru siapa. Masalahnya memang masalah kreativitas. Wahyu juga berpendapat bahwa siapa pun di antara anak-anak angin atau TTT yang bisa menemukan ritual doa baru, pastilah mereka yang lebih kreatif.

Nah, karena sampai saat ini sepertinya anak-anak angin dan TTT masih menggunakan Doa Lingkaran, berarti mereka sama-sama tidak kreatif (dalam hal menemukan ritual doa baru). Jadi, sesama anak-anak yang tidak kreatif, wahai angin dan TTT, dilarang saling merasa lebih kreatif… hehehe… 😉

Berikutnya…

Mmm… kapan2 aja deh saya lanjutkan, saya masih capek habis begadang di tempat orang nikah. Tidur jauh lebih nyaman untuk saat ini. 😉

Buat Ryl, salam kenal yang hangat + jabat erat… 😉

kok sepi lagi……… ayo nggodain anak Teater Tiga lagi………biar rame lagi……….

[Reply]

Wira Reply:

Hehe… mungkin masih dalam suasana Nyepi, Yu. Btw, masak menurutmu kurang rame? Setelah komentar dari Benny-1, Benny-2, Benny-3, Dudung-1, Dudung-2, & Dudung-3, ada lumayan juga komentar yang meramaikan kok: Pirili, Pina, Ayu, Crew-1, Rara-1, Rara-2, Crew-2, Ryl-1, & Ryl-2. Tapi kayaknya komentator2 ini ndak make nama aslinya. Masih kurang rame? Dasar tukang kompor kamu… 😉 Sayangnya anak-anak angin sepi-sepi aja tuh, cuma ada komentar singkat dari Ahong dan Gungbo… 😀

Benar sekali apa yang dikatakan Wira,kalau kalian ingin dikatakan kreatif,atau lebih kreatif dari yang lainnya,buatlah doa sendiri,itu baru bisa dikatakan kreatif.

kalau meniru sapa saja boleh,dan sapa yang duluan”meniru”itu gak masalah/tidak berarti apa-apa,dan bukan berarti yang meniru duluan/yang paling pertama meniru doa lingkaran itu sudah di katakan kreatif,yang namanya”niru”karya orang lain itu ya “TIDAK KREATIF”.

Buat Wira, salam kenal juga. 😉

[Reply]

wahahaha jangan-jangan anak angin malah ga tau ada perdebatan kaya gini….

btw, saya kangen lho dengan orang-orang dalam photo header di blog ini. bli wira tidak ada ide untuk bikin kumpul-kumpul lagikah??

kalau lihat komen-komen di atas, antara kreatif dan tidak kreatif, saya jadi ingat masa SMA dulu, hahahaha, kalau dikenang-kenang lucu juga…

[Reply]

Wira Reply:

Hehe… betul, anak-anak angin pada sing rungu dengan perdebatan ini.

Kangen dengan orang-orang dalam foto header? Semuanya, beberapa orang, atau hanya seorang? 😉 Hihi… Kayaknya kangennya sama yang pake baju item ya? Ups… ada banyak yang pake baju item… 😀

Kumpul-kumpul lagi nunggu desakan massa aja deh… 😉

oya bli wir. bole ga saya minta nomor kontaknya?? ada banyak acara pentas seni budaya yang komunitas saya adakan. barangkali bli wira bisa urun partisipasi… kirim via email aja ya nomornya…

[Reply]

Saya setuju Rasti. Saya kira Bli Wir memang perlu diundang dalam diskusi2 dan even2 apresiasi kebudayaan, sudah saatnya kita tahbiskan dia menjadi pengamat seni teater remaja di Bali. Tuuooppppp!!!

[Reply]

Wira Reply:

Huahaha… bahasanya Dewa banget, “Sudah saatnya kita tahbiskan menjadi pengamat seni teater remaja Bali…”

Ada yang lebih pantas kok, untuk ditahbiskan sebagai pengamat seni/teater di Bali, ini dia! 😉 Selain sebagai penyair, tentunya.

wahyu Reply:

Jangan merendah begitu dong….Bli Wir….itung2 menyelam minum air, siapa tau dapet jodoh…wakakakakak….

wahahahaha, yang ga pke baju item, yang ga pke baju,,, hahahaha

nah thu kan, ayolah bli Wira, sudah saatnya ada seseorang yang lebih rungu pada teater remaja anak sekolahan yang khas,,, biar ada peningkatan kualitas juga kreativitas dan ga melulu pada kegiatan senang2 belaka…..

[Reply]

loh bli Wir masih nyari jodoh??? ckckckckckc

[Reply]

Wira Reply:

Ssst… jangan keras-keras! Ntar jodohnya kaburrr… 😀

26 Mar 2010, 12:56
by ngurah a.k.a cingur T.A angkatan 42


halo met siangg….
bener yang dikatakan oleh rasti.. saya malah baru tahu ada perdebatan antara T.A dengan Teater Tiga… hehe.. tapi bukannya masalah itu sebenernya sudah lama selesai ya? soalnya pada saat kejadian itu saya berada disana.. dan kita sudah menyelesaikan dengan cara baik2 (menurut kita)dan kita tidak ambil hati kok.. malah kalau tidak salah setelah kejadian itu kita malah makan di kreneng hehehe

[Reply]

Wira Reply:

Koreksi: bukan perdebatan antara Teater Angin dengan Teater Tiga, tapi antara pembaca setia teaterangin.com dengan beberapa anak yang sepertinya dari Teater Tiga. Yang diperdebatkan juga bukan soal Doa Lingkaran, tapi masalah kreatifitas. Hehe… kayaknya begitu kalau dilihat dari kacamata saya. 😉 Nah, kebetulan Cingur sebagai saksi sejarah, mungkin bisa menceritakan secara detail permasalahan yang sudah selesai yang dimaksud? Terutama yang makan2 di Kreneng itu… 😉

nah! keto nae!

cerita nae sekarang! 😀

[Reply]

1 May 2010, 13:12
by WanAbhud


sebelumnya, terima kasih yang banyak atas informasi yang diberikan oleh saudara wira . . . 🙂

saya sendiri berasal dari TTT bagian dokumentasi & humas, hhe . . . 😛

jadi, saya (pribadi) sudah clear untuk “doa lingkaran” ini, memang bukan milik siapa & untuk apa, namun dalam konteks maknawi doa lingkaran di masing” komunitas itu sendiri . . .

trims byk ya saudara wira ! ! ! ^^

Fadhil

[Reply]

ci asal komen gen gungbo! luung siep je lamun sing nawang ape.
@beni : sorry ben , salah paham ja nih.
@wira : nah kalo kya gini kan jelas mas wira, ini versinya TA , mungkin versi yg lain berbeda

[Reply]

ketinggalan berita ci kam. sek sek

[Reply]

Doanya sama kan?
Bisa saudaraan kan?
🙂

D.P.
TTT XXX

[Reply]

Wira Reply:

Menurut pendapat saya, persaudaraan itu tidak dibangun atas dasar kesamaan doa. Mau doanya sama, hampir mirip, atau beda 180 derajat sekalipun, tetap bisa bersaudara kok… 😉
Thanks sudah mampir dan meramaikan…

20 Sep 2014, 15:23
by gobeer


anak TTT kan harus ngalah sama anak TA. karena smansa kan “kakak tertua” trisma. jadi kita sebagai anak TTT harus ngalah, biar disayang sama Tuhan. karna kita tidak ingin yang berlebihan. biarkan TA yang berlebihan

[Reply]

*name

*e-mail

web site

leave a comment


 
  • Recent Comments

  • Random Posts

  • Anginers

  • Next Random Story

    [Kena.Ajian.Sirep] [Anak.Muda] [Keroyokan.Cerpen] [Adhi.Runner-Up] [Malioboro] [Eksperimen.Eksperimen] [Maaf.Saya.Tidak.Tahu.Perubahan.No.Undi] [Wahyu.Gagal.Mengkader.Wira] [Wisata] [Ratna] [Sucahya.Jangan.Diajak] [Lautan] [Dispen.Nonton.Film] [Angin.Biang.Demo] [Antologi.Bersyarat] [Sibang.Kaja]